Sabtu, 14 Maret 2009

mo pindah rumah....

Kawans, terima kasih sekali telah menjadi temanku, sahabat, dan keluargaku. Terima kasih sudah mampir di "rumah"ku ini dan setia membaca kisah2ku, menyikai, memuji, atau bahkan mengritik, dan mencaci hehehe. Semua aku terima dengan senang hati.

Insyaallah blog ini akan tetap ada, tapi kalau ingin tahu tentang duniaku sekarang, tentang kehidupanku, silahkan mampir ke blog aku yang baru, alamatnya dikabarkan menyusul hehehehe.

Mungkin banyak teman-teman yang bertanya2 kenapa musti pindah "rumah"???? nanti deh ya dijelasin di blog yang baru hehehehe......

Minggu, 09 November 2008

Cerita tentang Bond


"QUANTUM SOLACE" AKSI BOND PALING BEDA Oleh Desy Saputra

Film James Bond terbaru "Quantum Solace" bisa jadi adalah film yang terasa paling beda di antara film-film Bond sebelumnya.

Dalam film garapan sutradara Marc Forster ini Bond yang diperankan Daniel Craig tak terlihat flamboyan, tak ada adegan ranjang atau Bond yang romantis. Wajahnya dingin, tak banyak bicara, bahkan ia tak lagi meminum martini dan lebih memilih minum gin.

Penonton juga tidak akan menemui kisah konspirasi global ataupun bekal perlengkapan dan peralatan canggih yang biasa dipakai Bond dalam film-film sebelumnya.

Si pria tampan pujaan banyak perempuan cantik ini sering terlihat diam dan jauh di dalam sorot matanya seolah menyiratkan hati yang luka.

Hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh Bond sebelumnya, seperti Sean Connery lebih flamboyan, Roger Moore lebih konyol, Timothy Dalton lebih serius dan tidak terlalu banyak adegan seks, demikian pula dengan Pierce Brosnan yang karakternya flamboyan dan serius.

Cerita Bond dalam film ke-22 ini lebih banyak adegan action dan pilih angkat senjata daripada menghindari musuh. Dalam beberapa adegan, Bond dengan ringan melayangkan tembakan atau menusukkan pisau ke tubuh siapa saja yang dianggap menghalangi atau tidak mampu memberikan informasi yang diharapkan.

Bila dibandingkan dengan film Bond sebelumnya, film ini menyajikan "full action" yang dilakoni Bond di darat, air, dan udara.

Soal lokasi film juga lebih menarik dan indah dari sisi sudut pengambilan gambar, seperti ketika di Venezia dengan bangunan-bangunan tua yang eksotis, atau ketika di Austria dengan lokasi gedung-gedung megah menjulang dan tampak modern.

Menyembuhkan Luka
Bukan film Bond kalau tak bisa memberi kejutan dan sensasi tersendiri bagi penontonnya. Sang sutradara dan penulis cerita "Quantum Solace" tampaknya sangat menyadari hal itu.

Maka dalam film ini dibuatlah benang merah antara film "Quantum Solace" dengan film sebelumnya "Casino Royale".

Sang kekasih, Vesper, yang pernah berkhianat dan terbunuh di film "Casino Royale" diungkap kembali dalam film ini. Meski hanya lewat sebuah foto, luka lama Bond seperti terungkap lagi.

Kisah agen mata-mata ulung Inggris ini sebenarnya bermula dari sebuah misi melintasi Amerika Selatan dan Eropa untuk menghentikan teroris lingkungan.

Si teroris berkedok mengemban misi menyelamatkan lingkungan lalu diam-diam berusaha menguasai sumberdaya alam berharga di Haiti.

Selama melaksanakan tugas itu, hati Bond yang tengah diliputi rasa kecewa, terus berusaha mencari tahu penyebab mengapa Vesper menghianatinya.

Demi melaksanakan tugas dari bos "M", Bond melintasi Venezia, Bolivia, London, Haiti, Austria, dan Rusia. Dalam tugasnya kali ini Bond menghadapi banyak pergolakan batin dan nyaris beberapa kali salah perhitungan.

Saking seringnya ia membunuh musuh, "M" hampir-hampir tak lagi mempercayai Bond dan memintanya nonaktif dari tugas sebagai agen rahasia.

Secara sepintas, menonton film ini seperti halnya menyaksikan film Batman terbaru "The Dark Knight" yang mencoba untuk keluar dari tipikal film Batman sebelumnya. Bisa jadi Quantum Solace" mencoba hal yang sama lewat perubahan karakter si Bond itu sendiri.

"The Dark Knight" menampilkan sosok pahlawan kegelapan yang bisa saja salah, bertindak berdasarkan perasaan dan bukan logika, serta sosok pahlawan yang bisa saja lemah ketika hatinya disakiti perempuan yang dicintainya.

"Quantum Solace" membawa Bond berada dalam dilema itu. Ia berada di antara dendam, amarah, tugas yang tak boleh ditinggalkan, dan kesetiaan pada profesi.

Pada akhirnya ke mana pun sang kreator "Quantum Solace" membuat film ini berbeda dari sebelum-sebelumnya, semua kembali pada penafsiran penonton dan penggemar setia film agen rahasia Inggris ini.

Pendek kata, kali ini aksi Bond memang benar-benar memberi banyak kejutan bagi penonton. Atau bisa jadi kekecewaan penggemar setia filmnya karena karakter Bond mengalami perombakan.

Di Indonesia, "Quantum Solace" diputar sejak awal November dan mendapat tanggapan positif dari penonton. Meski Bond tampil beda, para penggemar setianya datang untuk mengapresiasi film dan menjadikannya sebagai ajang lepas kangen terhadap tokoh ciptaan Ian Fleming.

menunggu dia...


Salah satu lukisan di Galeri Nasional, karya perupa Zhao Chun. Melihat lukisan ini, jadi inget "dia". Yang ditunggu masih bikin "proposal" sih :p

Oleh-oleh Cerita dari Solo

Huaaaaah udah lamaaaa banget nggak isi Blog ini. Secara punya dua blog malah bingung niy, ujung2nya dua2nya nggak ada yang aku isi hehehe.
Ceritanya pas akhir Oktober lalu aku 10 hari niy di Solo, meliput dua agenda internasional.
World Heritage Cities Conference (WHCC) Euro-Asia mulai 27-28 Oktober dan setelah itu ada Solo International Ethnic Music Festival (SIEM) yang berlangsung di Pamedan Mangkunegaran pada 28 Oktober sampai 1 November.
Well, seperti biasa liputan kegiatan internasional emang ga mudah, tapi juga nggak susah kalau punya perencanaan kerja yang matang. Salah satunya bekal proposal yang sudah disetujui my big bos. Dengan panduan proposal itu aku bisa mengatur jadwal kerja dan membuat berita sesuai target harian. Hmmmh melelahkan.
Persoalannya adalah....aku sakit. Stres pas baru dateng di Solo, diare dua hari berturur2 dan akhirnya demam tinggi. Really don't know what to do secara aku nggak suka minum obat.
Akhirnya Bu Maria dan My Wen yang mulai ngingetin musti makan ini dan makan itu, ga boleh makan ini dan ga boleh makan itu.
Akhirnya juga...wedang jahe gula jawa yang aku beli di depan Kantor ANTARA-Solo bisa menghangatkan tubuh sekaligus menyembuhkan diare.
Berikutnya persoalan yang aku hadapi, meliput konferensi internasional dan aku nggak menguasai seluruh delegasi ternyata berdampak buruk juga :(
Jadi critanya aku mengalami kesulitan memantau jumlah peserta yang terus bertambah, nama-nama mereka, dan juga mengenali wajah mereka satu per satu.
Ditambah lagi, hari pertama konferensi suara pembicara di dalam ballroom nggak terdengar sampai ke tempatku duduk. Aaaarrrgghhhh, udah ngomongnya Bahasa Inggris, nggak terdengar pula. Cuma sayup2 doang.
Hari kedua lebih santai walaupun perutku masih bergejolak. Malemnya dilanjutkan dengan pembukaan SIEM Festival 2008 yang dihadiri sekitar 7.000 orang.
Asli rameee banget. Aku pulang hampir jam 12 malem, langsung bikin berita ditemani My Wen yang rajin nelpon tiap malem.
Hari-hari selanjutnya seperti biasa bangun agak siang hehehe (capek booo'), lalu ke venue SIEM dan mencari para delegasi yang sedang gladi bersih pementasan.
Setelah wawancara dan jalan2 di dalam Mangkunegaran, balik hotel dan mulai ngetik deh ampe malem.
Jam 20.00 WIB balik lagi ke venue dan nonton pertunjukan dari belakang panggung secara di situ "pe-we" untuk nonton dan wawancara artis yang baru tampil.
Semuanya menyenangkan sekaligus melelahkan. Energi terkuras habis untuk liputan, apalagi cuaca di Solo sangat tidak mendukung. Siang hari panas buanget dan malam hari hujan deras ampe lewat tengah malam. Padahal acara SIEM berlangsung di ruang terbuka a.k.a halaman Mangkunegaran. Yo wis, tiap malem masuk angin hehehe.
Beberapa catatan yang menarik selama SIEM diantaranya pertemuanku dengan teman-teman lama. Semuanya memberi kesan mendalam dan menyenangkan.
Aku ketemu Emma (adhek angkatan di FISIP UNS), Puspa (LO-nya Mr.Flute di SIEM 2007), tak sengaja bertemu Aan (teman seangkatan di FISIP UNS) pas lagi jalan kaki dari hotel ke kantor ANTARA, ketemu Marwan (temen di Akindo dan FISIP UNS), dan ketemuan lagi ama si Upi (wartawati di Solopos).
Selama di Solo juga berkenalan dengan banyak teman. Ketemu lagi ama Walikota Solo, Pak Joko Widodo dan sempat ngobrol denganku dan menyatakan senang sekali karena ANTARA jauh2 datang dari Jakarta untuk meliput, kenalan sama Denis Richard-Sekjen WHCC, kordinator WHCC Euro-Asia, panitia WHCC yang berbaik hati menyediakan aku kamar hotel selama konferensi dan memberi data-data pendukung.
Aku juga berkenalan dengan Glen Doyle...pria sli Aborigin yang tampil di SIEM 2008. Seneng banget ngobrol dengan dia, sampe satu jam lebih crita soal warisan budaya Aborigin yang hampir punah, tentang keluarganya, pengalamannya pentas di berbagai negara, tentang pandangan warga Australia terhadap masyarakat asli Aborigin.
Selain bersosialisasi, aku juga menjelajah kuliner Solo. Mulai dari gudeg sambel goreng, srabi Solo, mie ayam di Jalan Slamet Riyadi, ikan bakar Mbak Ima depan BCA Gladag, ayam bakar, dan nasi liwet. Nyam nyam nyam....
Yeaah, maklum saja dulu pernah kuliah di kota ini, jadi sekalian reuni kecil antara aku dan Solo.
Selanjutnya....Hmmm, kegiatan yang tidak kalah penting adalah belanja BATIK hihihi. Secara dana sangat terbatas, aku manfaatkan pameran batik pas acara kirab budaya karena di acara ini harga batik murah meriah.
Akhir pekan menjelang balik ke Jakarta, aku sempatkan ke Jogja. Bersama seseorang...hmmmyang sangat berarti buat aku. Trims banget jalan2nya ya bro, makasih traktirannya, hihihi semua menyenangkan bersamamu...ehm ehm.
Alhamdulillah....rencana liputan besarku ke Solo well done!!!!

Kamis, 23 Oktober 2008

liputan ke Solo

Sementara blognya dibiarin sepi dulu dari cerita2ku. Mo konsentrasi ke Solo, liputan khusus gitu deh.
Hmmmh, mengulang SIEMFC tahun lalu....mo nostalgia ke Benteng Vastenburg. Sendiri aja...seperti biasa. Menikmati hembusan angin sambil menyusuri jalanan di Slamet Riyadi...

Malemnya nonton konser musik bareng adhek2 kelasku dulu yang sekarang udah jadi wartawati. Bakal seneng, sekaligus sedih. Pisah sementara ya, hun....

Selasa, 21 Oktober 2008

Reuni Kecil Smarihastha

Holaaaaaaaaaa, udah lama nggak nulis di blog. Phheewww banyak kerjaan euyy. Mulai dari buku KPP yang masih ga slesai-slesai juga, proposal liputan ke Solo, menyiapkan acara reuni Smarihastha, dan.....apa lagi ya???? Oh ya, pastinya dong p*****n. Hihihihihi.


Btw, Minggu sore tanggal 19 Oktober kemarin sangat berkesan dan ga bakal lupa. Untuk pertama kalinya aku dateng ke acara reuni SMA dan aku juga yang mengatur acaranya bersama beberapa orang kawan.

Seneeeeng banget acaranya sukses, meski makanan dan minumannya menurutku kurang pas, tidak ada mikrofon juga sih, jadi aku males deh cuap cuap MC. Kalo nggak di paksa My Wen, aku ga bakal mau deh hehehe.

Paling menyenangkan lagi, sepulang dari acara itu aku bikin evaluasi. Hmmm, dia puji aku udah pinter mengatur acaranya. Hihihi, senang rasanya mendapat pengakuan dan pujian dari orang yang kita sayangi & banggakan.
Seharian udah deg2an aja acaranya nggak bakal sukses, takut yang dateng cuma sedikit, dan takut juga dana yang terkumpul bakal kurang hihihi.



Ah ternyata semua ketakutan itu sirna. Peserta reuni 31 orang, belum termasuk anggota keluarga seperti suami/istri dan anak-anak yang ikut datang, dana yang terkumpul masih sisa banyak banget dan bisa untuk acara reuni berikutnya, trus teman2ku datang semuaaaa....Dinda juga secara kami udah nggak ketemu hampir 10 tahun.


Dalam reuni itu....aku mendengar derai tawa Mas Didin, melihat Mas Widi yang penuh semangat datang bersama sang istri dan senyum Mas Roim bercampur letih setelah mengayuh sepeda angin dari Tebet ke Semanggi. Ada juga mas Aji yang jauh-jauh datang dari Indramayu, dan juga celoteh bocah-bocah yang ramai.


Sebuah pertemuan yang sangat berkesan dan semuanya bersuka cita larut dalam acara yang sesungguhnya masih jauh dari sempurna.

Terus terang acara ini ide awalnya adalah dari Dinda dan aku. Kami dulu satu kampus di UNS dan ingin bertemu setelah 10 tahun jarang kontak. Ternyata ide ini berkembang menjadi reuni kecil alumni Smarihastha dan aku ajak mas Roim menyusun agenda acara, mas Wewen untuk membantu publikasi dan dokumentasi.

Semuanya berlangsung tanpa banyak persiapan, jadi mohon maaf kalau tempatnya kurang berkenan, makanan dan minumannya tidak sesuai keinginan, atau berbagai hal lain yang mungkin terasa kurang pas. Desy minta maaf ya hik hik hik...Tentang acaranya.... hmmmh sangat menyenangkan, heboh dan mengejutkan! !!!
Bagaimana tidak, di reuni kecil ini aku lihat ada pertemuan salah satu alumni dengan mantan pacarnya dulu, ada juga yang ternyata suami istri sama-sama alumni Smarihastha (Adit-Rilli, Zulkifly-Silvi) ), ada juga yang pengantin (sangat) baru karena nikahnya sepekan lalu (mas Erwin, selamat ya...), trus yang ternyata kantornya bersebelahan juga ada dan bahkan sama-sama bekerja di bidang perbankan (mas Erwin-Nunie) .

Oh ya, ada juga yang berulang tahun (Pungky, met ultah ya), ada yang baru jadian (ehm ehm), juga yang sibuuukkkk banget mengurus anak-anak mereka yang masih balita, Mas Irfan yang juga super heboh ama mas Fajar ngerumpi tentang guru-guru kita dulu.

Sore itu ada keceriaan dan luapan kegembiraan yang luar biasa. Semangat kebersamaan ternyata mampu menggerakkan diri kita yang ada di Jakarta ini untuk bertemu sesaat, saling berbagi cerita dan mengenang kisah-kisah tak terlupakan semasa di Smarihastha.
Kepada kawan-kawan yang ingin hadir namun tidak bisa, semoga dalam pertemuan berikutnya bisa datang ya....

Tidak hanya soal cerita dari masa lalu, kami juga membahas tentang beberapa kawan yang kurang beruntung, adik-adik kelas kita yang tidak mampu membiayai sekolah, dan bagaimana menyambungkan hubungan antara pihaks ekolah dengan para alumni.

Terima kasih yang paling dalam untuk semua kawan-kawan yang hadir. Semoga dalam beberapa bulan ke depan kita bisa bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Terima kasih juga untuk waktu yang telah diluangkan kawan-kawan semua, karena untuk datang ke reuni kecil ini ada banyak agenda acara yang kalian tinggalkan atau perjuangan keras untuk bisa datang. Demi sebuah kebersamaan.

Semoga pertemuan tersebut membawa kebaikan untuk kita semua....Amiin.


Tapi sayangnya....nggak satupun ada foto aku dan masku hik hik hik. Secara dia sibuk dengan teman2nya ngobrol ngalor ngidul. Aku foto-fotonyanya malah sama mas Irfan dan mas Soni hikikiki.








Senin, 13 Oktober 2008

hidup untuk memberi

Pak Harfa gurunya Ikal berkali-kali mengulang dalam beberapa adegan, bahwa kita hidup untuk sebanyak-banyaknya memberi pada orang lain. Bukan sebanyak-banyaknya menerima.

Jauh sebelum itu ketika aku ditanya beberapa kawan: mau ngapain dalam hidup ini???? aku bilang aku ingin bermanfaat secara positif untuk orang lain. Aku ingin ada untuk kebahagiaan mereka.

Aku mulai dengan mengajar, membagi ilmu dan pengalaman. Mulai dengan membuat kelompok2 diskusi di kampus, bikin pelatihan jurnalistik untuk adhek2 kelasku, ngisi acara diskusi jurnalistik, atau yang lebih personal terhadap keluarga dan pacar...hmmmm ga bisa di share deh hehehe.

Nyatanya semua itu (sejak dulu) tidak mudah untuk dilakukan, selalu ada hambatan dan tantangan. Kadang, keinginan yang baik tidak selalu ditanggapi dengan baik, bukan????
Niat yang tulus tidak selalu dibaca dengan tulus oleh orang lain, termasuk orang yang paling kita sayangi.

Kadang niat kita malah dianggap mengganggu atau terlalu berlebihan. Ahhhh, bukankah manusia itu makhluk sosial??? saling berganutng dan membutuhkan.


Setelah introspeksi diri, yeah mungkin, cara aku salah. Mungkin juga waktunya tidak tepat.
Namun bagaimanapun juga aku toh sudah mencobanya. Biarlah mereka yang menilai. Tidak ada niat buruk kok, hanya ingin saling membantu.

Note: Jangan pernah berhenti menebar kebaikan, ga akan ada ruginya kok. Tuhan tidak pernah tidur. God is watching us.... :)



Jumat, 10 Oktober 2008

kenny loggins

Jumat siang di redaksi ANTARA lantai 20.
Ada Maryati, Mbak Zita, Mas Joko, dan aku....semua lagi sibuk ngetik sampai akhirnya ada lagunya Kenny Loggins yang Return to Pooh Corner.
Hmmmm, langsung deh menghambur ke depan radio, secara ga bisa dengerin radio agak kenceng dikit, namanya juga di kantor hehehe.
Kata mas Wen, Kenny Loggins bikin album lagu itu buat anaknya. Well, lagunya unik, KL menyanyi dengan santai banget, dan dentingan gitarnya itu...hmmmmh bikin ati jadi adeeem.
Listening to this song, remembering me to someone I met at Starbuck Sky Building, 6th Sept, 2008. Seingatku pernah suatu hari dengerin lagu itu di radio, pas dia lagi nelpon.
Emmmm,
Dulu sih pengen banget punya pacar yang bisa main gitar wakakakaka. Pas kuliah tuh paling seneng di ruang HMJ Broadcasting, biasanya ada Camar dan Mbak Yani yang duet nyanyi+main gitar.
Atau kalo nggak, biasanya Shanty dan aku, atau trio dari Jalan Terban GKv/398 a.k.a Wita, Nugie, dan aku kalo sore2 di teras rumah Jogja nyanyi2 bareng secara Nugie punya gitar baru. KAdang Shanti ikutan nimbrung, jadi makin rame deeehh.
Tapi sekarang udah lama nggak ada yang main gitar buat aku. Ehmm, pernah sih ada satu orang yang datang ke rumah Jogja, pinjem gitar Nugie dan mulai do re mi fa sol gitu. Cieeee. But it was.
He's a good friend, kocak abis, still single, deadly love Jogja, nggak mau pindah dari Kota Gudeg itu, dan nggak nyangka ketemu lg di Galeri Nasional pas pameran lukisan. Hikikikiki...Glad to meet u.

Rabu, 08 Oktober 2008

ga mood

Gini niy kalo nulis resensi film dalam keadaan tidak mood hihihi. Ancur deh tulisannya. Tapi beruntung dibantuin sama dia, diberi sedikit pandangan ttg film2 Spielberg. Sangat membantu...dan pengen belajar lebih jauh lg ttg bikin resensi film.

Eagle Eye

"EAGLE EYE", TEKNOLOGI MENYERANG BALIK MANUSIA Oleh Desy Saputra

Teknologi ada di mana-mana, hampir seluruh segi kehidupan manusia selalu ada sentuhan teknologi. Namun bagaimana bila teknologi canggih hasil karya manusia itu justru menyerang balik si pencipta dan menimbulkan kekacauan besar di negara adidaya Amerika Serikat?
Jawabannya ada di film terbaru Shia LeBeouf (Disturbia, Transformer) dan Michelle Monaghan. Film berjudul "Eagle Eye" dari DreamWorks Pictures ini disutradarai D.J. Caruso. Steven Spielberg menjadi eksekutif produser film ini bersama Edward L McDonnell.
Dalam film action thriller ini dikisahkan Jerry Shaw (LaBeouf) dan Rachel Holloman (Michelle Monaghan) adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Mereka dipertemukan oleh sebuah telefon misterius dari seorang perempuan yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
Suara itu tersebut memaksa mereka mengikuti instruksi berantai. Tak ada kata menolak bagi Jerry maupun Rachel, sebab hukuman mati adalah ganjarannya. Rachel juga tak punya pilihan lain karena keselamatan anaknya juga terancam bila ia menolak perintah.
Hidup Jerry dan Rachel berubah 180 derajat dari orang biasa menjadi target FBI sejak keduanya mengikuti setiap perintah yang disampaikan perempuan itu.
Tanpa mereka sadari misi tersembunyi dibalik serangkaian intruksi itu bermuara pada pembunuhan dengan target sejumlah pejabat di Gedung Putih.
Suara tersebut terus memantau setiap gerakan Rachel dan Jerry, bahkan mengontrol semua teknologi canggih di AS mulai dari kereta api listrik, mesin ATM, lampu pengatur lalu lintas kota, dan bahkan mengendalikan senjata pemusnah massal.
Sementara itu secara terpisah di sebuah ruang rahasia Departemen Pertahanan AS, sebuah sistem komputerisasi yang super canggih sedang menjalankan tugasnya.
Sistem ini dapat memantau setiap pergerakan manusia, semua isi pembicaraan dan percakapan telepon jutaan orang di AS, termasuk isi sms di ponsel, dan merekam segala kegiatan orang sehingga terdokumentasikan dengan rapi.
Kecanggihan teknologi ini mulanya diniatkan untuk keamanan AS, yakni memantau pergerakan terorisme di negara tersebut. Sayangnya komputerisasi dan kecanggihan teknologi itu justru berbalik menyerang manusia.
Gaya Spielberg

Menyaksikan film ini akan membawa penonton pada suasana tegang dari awal hingga akhir film.
Campur tangan Spielberg dalam film ini kental terasa dari beberapa sisi seperti adegan seru kejar-kejaran antara Jerry dan Rachel dengan FBI, penggunaan senjata-senjata mutakhir, teknologi canggih, dan tema cerita yang selalu berakhir dengan kemenangan sang lakon.
Dari sisi membangun suasana tegang dan menjaga "mood" penonton, film ini memang berhasil. Sayangnya dari segi kedalaman cerita dan penyelesaian akhir tampak masih kurang.
Di awal cerita yang digarap dengan serius dan ditampilkan adegan-adegan dari beberapa tempat berbeda seperti sebuah mosaik. Sayangnya lagi-lagi penyelesaian film ini terlalu cepat, terburu-buru dengan akhir cerita yang mudah ditebak.
Kisah-kisah semacam ini yang sebenarnya paling "aman" artinya lebih mudah meraih simpati dan kepuasan penonton. Berbeda dengan film Batman terbaru, "The Dark Knight" misalnya, yang lebih memberikan kebebasan pada penonton untuk menyimpulkan sendiri akhir ceritanya.
Kuasa Spielberg dalam film ini tak dapat dipungkiri karena ide awal cerita Jerry dan Rachel sesungguhnya berawal dari sutradara film pelanggan box office ini.
Lewat "Eagle Eye" ia paparkan kenyataan bahwa teknologi yang kini ada dimana-mana dan membuat manusia sangat tergantung padanya ternyata bisa berbalik menyerang manusia.
Teknologi yang ada di sekitar manusia dan membuat mereka tergantung padanya tiba-tiba bekerja diluar kontrol dan membahayakan kehidupan umat manusia di muka bumi.
Menonton film ini mungkin akan membuat penonton keluar dari bioskop dan mematikan telefon selulernya karena sesungguhnya teknologi telah memungkinkan orang-orang di bidang pertahanan negara ataupun pihak-pihak berkepentingan lainnya untuk membaca dan merekam semua pesan dan pembicaraan.
Pesona LeBeouf

Sejak awal film, pesona LeBeouf tak bisa dipungkiri menjadi daya tarik utama. Ia adalah bintang yang sedang bersinar dan memiliki kualitas sebagai aktor muda yang cukup baik.
Penampilannya dalam film ini patut diacungi jempol karena mampu berperan sebagai pria muda yang keras kepala, susah diatur, namun sesungguhnya rela berkorban dan pemberani.
Ia mampu menjiwai karakter Jerry dan LeBeouf juga tampak lebih dewasa dalam film ini, meski sebenarnya dia masih sangat muda, 21 tahun.
LeBeouf berhasil keluar dari tipikal film-film remaja yang selama ini dilakoninya, seperti dalam "Jumper" (2008) dan Transformer" (2007). Dimana dalam film ini dia berperan sebagai remaja yang masih punya gaya hura-hura.
"Eagle Eye" sebenarnya bukan pekerjaan pertama Le Beouf dengan Spielberg. Sebelumnya ia juga membitangi film Spielberg dalam film "Disturbia".
Film tersebut bergenre thriller dan dia berperan sebagai Kale Brecht, seorang anak muda yang suka mengintip rumah tetangganya dan tidak sengaja melihat tetangga membunuh seseorang perempuan.
Lewat pesona wajah dan akting LeBeouf, hal ini bisa menyegarkan mata penonton yang mungkin mulai bosan menyaksikan film gaya Spielberg yang populis, sentimental, dan terburu-buru di akhir cerita.
Film ini di Indonesia mulai diputar awal Oktober di berbagai bioskop jaringan 21 cineplex. Sejumlah penonton usai menyaksikan film ini mengaku menyukai penampilan berbeda LeBeouf dan menikmati ketegangan sepanjang cerita berjalan.




beautiful day

Hari yang indah....
Bangun pagi menikmati teh hijau hmmm...trus pergi ke pasar beli sayuran & mulai memasak. Kalau toh akhirnya masakan yang dibuat dengan penuh cinta itu tidak sampai di orang yang dituju hehehe, yo wis, nasibku :-D
Gpp deh, sekalian belajar memahami persoalan dengan lebih jernih, sekalian belajar membagi waktu dengan baik antara bangun lebih pagiiii, olahraga pagi, belanja ke pasar, memasak sendiri, lalu kembali ke timbunan tugas artikel2 berita. Capek loh, tapi sangat menyenangkan....
Siangnya rapat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan...duuuh ternyata masih dapet tambahan tugas bikin tulisan tentang Miranda Goeltom, Mimi Rasinah, dan Megawati. Oh yeaah, nama pertama dan ketiga ini bener2 nggak aku harapkan, meskipun cukup tahu bagaimana kiprah mereka di bidang masing-masing.
Tapi yang namanya tugas ya mau tidak mau harus dilaksanakan, secara Bu Meutia juga langsung menunjuk tanpa aku bisa mengelak.
Dalam atiku: Tapi bu, saya juga perlu libur. Otakku ini penuh dengan tugas2 bikin artikel pesenan Kepala Departemen dan juga Pak Dirpem, belom lagi redaktur2 yang ngusulin berita ini dan itu.
Jadi bagaimana???? Hmmm mumpung My Wen sedang pengen sendiri...ya udah, makin banyak waktu untuk bisa segera menyelesaikan tugas-tugas itu. Iya nggak, hun???
Berita menyenangkannya, honor tulisan bakal diterimakan 15 Oktober. Alhamdulillah.
Musibahnya???? hihihihi, editing buku masih belom kelar juga. Ini karena pikiran masih tersita untuk sesuatu yang seharusnya nggak usah dipikirin banget2 (C'mon Des, he's here and you trust him. InsyaAllah).
So, no need to worried. Take your time, hun. I'll be fine, I'll be strong. Ini hanya riak kecil, we must fight and not surrender too soon.

tragedi di siang bolong :)

Kesel sih dengan kejadian siang ini, sesek dadaku, tapi aku juga yang salah ya.
Ini cuma pemilihan waktu aja yang salah. Hmmmh....