Kawans, terima kasih sekali telah menjadi temanku, sahabat, dan keluargaku. Terima kasih sudah mampir di "rumah"ku ini dan setia membaca kisah2ku, menyikai, memuji, atau bahkan mengritik, dan mencaci hehehe. Semua aku terima dengan senang hati.
Insyaallah blog ini akan tetap ada, tapi kalau ingin tahu tentang duniaku sekarang, tentang kehidupanku, silahkan mampir ke blog aku yang baru, alamatnya dikabarkan menyusul hehehehe.
Mungkin banyak teman-teman yang bertanya2 kenapa musti pindah "rumah"???? nanti deh ya dijelasin di blog yang baru hehehehe......
Sabtu, 14 Maret 2009
mo pindah rumah....
Diposkan oleh desy di 10:39 1 komentar
Minggu, 09 November 2008
Cerita tentang Bond

"QUANTUM SOLACE" AKSI BOND PALING BEDA Oleh Desy Saputra
Film James Bond terbaru "Quantum Solace" bisa jadi adalah film yang terasa paling beda di antara film-film Bond sebelumnya.
Dalam film garapan sutradara Marc Forster ini Bond yang diperankan Daniel Craig tak terlihat flamboyan, tak ada adegan ranjang atau Bond yang romantis. Wajahnya dingin, tak banyak bicara, bahkan ia tak lagi meminum martini dan lebih memilih minum gin.
Penonton juga tidak akan menemui kisah konspirasi global ataupun bekal perlengkapan dan peralatan canggih yang biasa dipakai Bond dalam film-film sebelumnya.
Si pria tampan pujaan banyak perempuan cantik ini sering terlihat diam dan jauh di dalam sorot matanya seolah menyiratkan hati yang luka.
Hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh Bond sebelumnya, seperti Sean Connery lebih flamboyan, Roger Moore lebih konyol, Timothy Dalton lebih serius dan tidak terlalu banyak adegan seks, demikian pula dengan Pierce Brosnan yang karakternya flamboyan dan serius.
Cerita Bond dalam film ke-22 ini lebih banyak adegan action dan pilih angkat senjata daripada menghindari musuh. Dalam beberapa adegan, Bond dengan ringan melayangkan tembakan atau menusukkan pisau ke tubuh siapa saja yang dianggap menghalangi atau tidak mampu memberikan informasi yang diharapkan.
Bila dibandingkan dengan film Bond sebelumnya, film ini menyajikan "full action" yang dilakoni Bond di darat, air, dan udara.
Soal lokasi film juga lebih menarik dan indah dari sisi sudut pengambilan gambar, seperti ketika di Venezia dengan bangunan-bangunan tua yang eksotis, atau ketika di Austria dengan lokasi gedung-gedung megah menjulang dan tampak modern.
Menyembuhkan Luka
Bukan film Bond kalau tak bisa memberi kejutan dan sensasi tersendiri bagi penontonnya. Sang sutradara dan penulis cerita "Quantum Solace" tampaknya sangat menyadari hal itu.
Maka dalam film ini dibuatlah benang merah antara film "Quantum Solace" dengan film sebelumnya "Casino Royale".
Sang kekasih, Vesper, yang pernah berkhianat dan terbunuh di film "Casino Royale" diungkap kembali dalam film ini. Meski hanya lewat sebuah foto, luka lama Bond seperti terungkap lagi.
Kisah agen mata-mata ulung Inggris ini sebenarnya bermula dari sebuah misi melintasi Amerika Selatan dan Eropa untuk menghentikan teroris lingkungan.
Si teroris berkedok mengemban misi menyelamatkan lingkungan lalu diam-diam berusaha menguasai sumberdaya alam berharga di Haiti.
Selama melaksanakan tugas itu, hati Bond yang tengah diliputi rasa kecewa, terus berusaha mencari tahu penyebab mengapa Vesper menghianatinya.
Demi melaksanakan tugas dari bos "M", Bond melintasi Venezia, Bolivia, London, Haiti, Austria, dan Rusia. Dalam tugasnya kali ini Bond menghadapi banyak pergolakan batin dan nyaris beberapa kali salah perhitungan.
Saking seringnya ia membunuh musuh, "M" hampir-hampir tak lagi mempercayai Bond dan memintanya nonaktif dari tugas sebagai agen rahasia.
Secara sepintas, menonton film ini seperti halnya menyaksikan film Batman terbaru "The Dark Knight" yang mencoba untuk keluar dari tipikal film Batman sebelumnya. Bisa jadi Quantum Solace" mencoba hal yang sama lewat perubahan karakter si Bond itu sendiri.
"The Dark Knight" menampilkan sosok pahlawan kegelapan yang bisa saja salah, bertindak berdasarkan perasaan dan bukan logika, serta sosok pahlawan yang bisa saja lemah ketika hatinya disakiti perempuan yang dicintainya.
"Quantum Solace" membawa Bond berada dalam dilema itu. Ia berada di antara dendam, amarah, tugas yang tak boleh ditinggalkan, dan kesetiaan pada profesi.
Pada akhirnya ke mana pun sang kreator "Quantum Solace" membuat film ini berbeda dari sebelum-sebelumnya, semua kembali pada penafsiran penonton dan penggemar setia film agen rahasia Inggris ini.
Pendek kata, kali ini aksi Bond memang benar-benar memberi banyak kejutan bagi penonton. Atau bisa jadi kekecewaan penggemar setia filmnya karena karakter Bond mengalami perombakan.
Di Indonesia, "Quantum Solace" diputar sejak awal November dan mendapat tanggapan positif dari penonton. Meski Bond tampil beda, para penggemar setianya datang untuk mengapresiasi film dan menjadikannya sebagai ajang lepas kangen terhadap tokoh ciptaan Ian Fleming.
Diposkan oleh desy di 18:39 2 komentar
Oleh-oleh Cerita dari Solo
Diposkan oleh desy di 17:06 0 komentar
Kamis, 23 Oktober 2008
liputan ke Solo
Hmmmh, mengulang SIEMFC tahun lalu....mo nostalgia ke Benteng Vastenburg. Sendiri aja...seperti biasa. Menikmati hembusan angin sambil menyusuri jalanan di Slamet Riyadi...
Malemnya nonton konser musik bareng adhek2 kelasku dulu yang sekarang udah jadi wartawati. Bakal seneng, sekaligus sedih. Pisah sementara ya, hun....
Diposkan oleh desy di 22:20 0 komentar
Label: curhatku
Selasa, 21 Oktober 2008
Reuni Kecil Smarihastha
Holaaaaaaaaaa, udah lama nggak nulis di blog. Phheewww banyak kerjaan euyy. Mulai dari buku KPP yang masih ga slesai-slesai juga, proposal liputan ke Solo, menyiapkan acara reuni Smarihastha, dan.....apa lagi ya???? Oh ya, pastinya dong p*****n. Hihihihihi.
Btw, Minggu sore tanggal 19 Oktober kemarin sangat berkesan dan ga bakal lupa. Untuk pertama kalinya aku dateng ke acara reuni SMA dan aku juga yang mengatur acaranya bersama beberapa orang kawan.
Seneeeeng banget acaranya sukses, meski makanan dan minumannya menurutku kurang pas, tidak ada mikrofon juga sih, jadi aku males deh cuap cuap MC. Kalo nggak di paksa My Wen, aku ga bakal mau deh hehehe.
Paling menyenangkan lagi, sepulang dari acara itu aku bikin evaluasi. Hmmm, dia puji aku udah pinter mengatur acaranya. Hihihi, senang rasanya mendapat pengakuan dan pujian dari orang yang kita sayangi & banggakan.
Seharian udah deg2an aja acaranya nggak bakal sukses, takut yang dateng cuma sedikit, dan takut juga dana yang terkumpul bakal kurang hihihi.

Ah ternyata semua ketakutan itu sirna. Peserta reuni 31 orang, belum termasuk anggota keluarga seperti suami/istri dan anak-anak yang ikut datang, dana yang terkumpul masih sisa banyak banget dan bisa untuk acara reuni berikutnya, trus teman2ku datang semuaaaa....Dinda juga secara kami udah nggak ketemu hampir 10 tahun.
Dalam reuni itu....aku mendengar derai tawa Mas Didin, melihat Mas Widi yang penuh semangat datang bersama sang istri dan senyum Mas Roim bercampur letih setelah mengayuh sepeda angin dari Tebet ke Semanggi. Ada juga mas Aji yang jauh-jauh datang dari Indramayu, dan juga celoteh bocah-bocah yang ramai.
Sebuah pertemuan yang sangat berkesan dan semuanya bersuka cita larut dalam acara yang sesungguhnya masih jauh dari sempurna.Terus terang acara ini ide awalnya adalah dari Dinda dan aku. Kami dulu satu kampus di UNS dan ingin bertemu setelah 10 tahun jarang kontak. Ternyata ide ini berkembang menjadi reuni kecil alumni Smarihastha dan aku ajak mas Roim menyusun agenda acara, mas Wewen untuk membantu publikasi dan dokumentasi.
Semuanya berlangsung tanpa banyak persiapan, jadi mohon maaf kalau tempatnya kurang berkenan, makanan dan minumannya tidak sesuai keinginan, atau berbagai hal lain yang mungkin terasa kurang pas. Desy minta maaf ya hik hik hik...Tentang acaranya.... hmmmh sangat menyenangkan, heboh dan mengejutkan! !!!
Bagaimana tidak, di reuni kecil ini aku lihat ada pertemuan salah satu alumni dengan mantan pacarnya dulu, ada juga yang ternyata suami istri sama-sama alumni Smarihastha (Adit-Rilli, Zulkifly-Silvi) ), ada juga yang pengantin (sangat) baru karena nikahnya sepekan lalu (mas Erwin, selamat ya...), trus yang ternyata kantornya bersebelahan juga ada dan bahkan sama-sama bekerja di bidang perbankan (mas Erwin-Nunie) .
Oh ya, ada juga yang berulang tahun (Pungky, met ultah ya), ada yang baru jadian (ehm ehm), juga yang sibuuukkkk banget mengurus anak-anak mereka yang masih balita, Mas Irfan yang juga super heboh ama mas Fajar ngerumpi tentang guru-guru kita dulu.

Sore itu ada keceriaan dan luapan kegembiraan yang luar biasa. Semangat kebersamaan ternyata mampu menggerakkan diri kita yang ada di Jakarta ini untuk bertemu sesaat, saling berbagi cerita dan mengenang kisah-kisah tak terlupakan semasa di Smarihastha.
Kepada kawan-kawan yang ingin hadir namun tidak bisa, semoga dalam pertemuan berikutnya bisa datang ya....
Tidak hanya soal cerita dari masa lalu, kami juga membahas tentang beberapa kawan yang kurang beruntung, adik-adik kelas kita yang tidak mampu membiayai sekolah, dan bagaimana menyambungkan hubungan antara pihaks ekolah dengan para alumni.
Terima kasih yang paling dalam untuk semua kawan-kawan yang hadir. Semoga dalam beberapa bulan ke depan kita bisa bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Terima kasih juga untuk waktu yang telah diluangkan kawan-kawan semua, karena untuk datang ke reuni kecil ini ada banyak agenda acara yang kalian tinggalkan atau perjuangan keras untuk bisa datang. Demi sebuah kebersamaan.
Semoga pertemuan tersebut membawa kebaikan untuk kita semua....Amiin.
Tapi sayangnya....nggak satupun ada foto aku dan masku hik hik hik. Secara dia sibuk dengan teman2nya ngobrol ngalor ngidul. Aku foto-fotonyanya malah sama mas Irfan dan mas Soni hikikiki.
Diposkan oleh desy di 15:24 0 komentar
Senin, 13 Oktober 2008
hidup untuk memberi
Jauh sebelum itu ketika aku ditanya beberapa kawan: mau ngapain dalam hidup ini???? aku bilang aku ingin bermanfaat secara positif untuk orang lain. Aku ingin ada untuk kebahagiaan mereka.
Aku mulai dengan mengajar, membagi ilmu dan pengalaman. Mulai dengan membuat kelompok2 diskusi di kampus, bikin pelatihan jurnalistik untuk adhek2 kelasku, ngisi acara diskusi jurnalistik, atau yang lebih personal terhadap keluarga dan pacar...hmmmm ga bisa di share deh hehehe.
Nyatanya semua itu (sejak dulu) tidak mudah untuk dilakukan, selalu ada hambatan dan tantangan. Kadang, keinginan yang baik tidak selalu ditanggapi dengan baik, bukan????
Niat yang tulus tidak selalu dibaca dengan tulus oleh orang lain, termasuk orang yang paling kita sayangi.
Kadang niat kita malah dianggap mengganggu atau terlalu berlebihan. Ahhhh, bukankah manusia itu makhluk sosial??? saling berganutng dan membutuhkan.
Setelah introspeksi diri, yeah mungkin, cara aku salah. Mungkin juga waktunya tidak tepat.
Namun bagaimanapun juga aku toh sudah mencobanya. Biarlah mereka yang menilai. Tidak ada niat buruk kok, hanya ingin saling membantu.
Note: Jangan pernah berhenti menebar kebaikan, ga akan ada ruginya kok. Tuhan tidak pernah tidur. God is watching us.... :)
Diposkan oleh desy di 20:06 0 komentar
Jumat, 10 Oktober 2008
kenny loggins
Diposkan oleh desy di 13:21 2 komentar
Rabu, 08 Oktober 2008
ga mood
Diposkan oleh desy di 20:35 0 komentar
Eagle Eye
"EAGLE EYE", TEKNOLOGI MENYERANG BALIK MANUSIA Oleh Desy Saputra Teknologi ada di mana-mana, hampir seluruh segi kehidupan manusia selalu ada sentuhan teknologi. Namun bagaimana bila teknologi canggih hasil karya manusia itu justru menyerang balik si pencipta dan menimbulkan kekacauan besar di negara adidaya Amerika Serikat?
Jawabannya ada di film terbaru Shia LeBeouf (Disturbia, Transformer) dan Michelle Monaghan. Film berjudul "Eagle Eye" dari DreamWorks Pictures ini disutradarai D.J. Caruso. Steven Spielberg menjadi eksekutif produser film ini bersama Edward L McDonnell.
Dalam film action thriller ini dikisahkan Jerry Shaw (LaBeouf) dan Rachel Holloman (Michelle Monaghan) adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Mereka dipertemukan oleh sebuah telefon misterius dari seorang perempuan yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
Suara itu tersebut memaksa mereka mengikuti instruksi berantai. Tak ada kata menolak bagi Jerry maupun Rachel, sebab hukuman mati adalah ganjarannya. Rachel juga tak punya pilihan lain karena keselamatan anaknya juga terancam bila ia menolak perintah.
Hidup Jerry dan Rachel berubah 180 derajat dari orang biasa menjadi target FBI sejak keduanya mengikuti setiap perintah yang disampaikan perempuan itu.
Tanpa mereka sadari misi tersembunyi dibalik serangkaian intruksi itu bermuara pada pembunuhan dengan target sejumlah pejabat di Gedung Putih.
Suara tersebut terus memantau setiap gerakan Rachel dan Jerry, bahkan mengontrol semua teknologi canggih di AS mulai dari kereta api listrik, mesin ATM, lampu pengatur lalu lintas kota, dan bahkan mengendalikan senjata pemusnah massal.
Sementara itu secara terpisah di sebuah ruang rahasia Departemen Pertahanan AS, sebuah sistem komputerisasi yang super canggih sedang menjalankan tugasnya.
Sistem ini dapat memantau setiap pergerakan manusia, semua isi pembicaraan dan percakapan telepon jutaan orang di AS, termasuk isi sms di ponsel, dan merekam segala kegiatan orang sehingga terdokumentasikan dengan rapi.
Kecanggihan teknologi ini mulanya diniatkan untuk keamanan AS, yakni memantau pergerakan terorisme di negara tersebut. Sayangnya komputerisasi dan kecanggihan teknologi itu justru berbalik menyerang manusia.
Gaya SpielbergMenyaksikan film ini akan membawa penonton pada suasana tegang dari awal hingga akhir film.
Campur tangan Spielberg dalam film ini kental terasa dari beberapa sisi seperti adegan seru kejar-kejaran antara Jerry dan Rachel dengan FBI, penggunaan senjata-senjata mutakhir, teknologi canggih, dan tema cerita yang selalu berakhir dengan kemenangan sang lakon.
Dari sisi membangun suasana tegang dan menjaga "mood" penonton, film ini memang berhasil. Sayangnya dari segi kedalaman cerita dan penyelesaian akhir tampak masih kurang.
Di awal cerita yang digarap dengan serius dan ditampilkan adegan-adegan dari beberapa tempat berbeda seperti sebuah mosaik. Sayangnya lagi-lagi penyelesaian film ini terlalu cepat, terburu-buru dengan akhir cerita yang mudah ditebak.
Kisah-kisah semacam ini yang sebenarnya paling "aman" artinya lebih mudah meraih simpati dan kepuasan penonton. Berbeda dengan film Batman terbaru, "The Dark Knight" misalnya, yang lebih memberikan kebebasan pada penonton untuk menyimpulkan sendiri akhir ceritanya.
Kuasa Spielberg dalam film ini tak dapat dipungkiri karena ide awal cerita Jerry dan Rachel sesungguhnya berawal dari sutradara film pelanggan box office ini.
Lewat "Eagle Eye" ia paparkan kenyataan bahwa teknologi yang kini ada dimana-mana dan membuat manusia sangat tergantung padanya ternyata bisa berbalik menyerang manusia.
Teknologi yang ada di sekitar manusia dan membuat mereka tergantung padanya tiba-tiba bekerja diluar kontrol dan membahayakan kehidupan umat manusia di muka bumi.
Menonton film ini mungkin akan membuat penonton keluar dari bioskop dan mematikan telefon selulernya karena sesungguhnya teknologi telah memungkinkan orang-orang di bidang pertahanan negara ataupun pihak-pihak berkepentingan lainnya untuk membaca dan merekam semua pesan dan pembicaraan.
Pesona LeBeoufSejak awal film, pesona LeBeouf tak bisa dipungkiri menjadi daya tarik utama. Ia adalah bintang yang sedang bersinar dan memiliki kualitas sebagai aktor muda yang cukup baik.
Penampilannya dalam film ini patut diacungi jempol karena mampu berperan sebagai pria muda yang keras kepala, susah diatur, namun sesungguhnya rela berkorban dan pemberani.
Ia mampu menjiwai karakter Jerry dan LeBeouf juga tampak lebih dewasa dalam film ini, meski sebenarnya dia masih sangat muda, 21 tahun.
LeBeouf berhasil keluar dari tipikal film-film remaja yang selama ini dilakoninya, seperti dalam "Jumper" (2008) dan Transformer" (2007). Dimana dalam film ini dia berperan sebagai remaja yang masih punya gaya hura-hura.
"Eagle Eye" sebenarnya bukan pekerjaan pertama Le Beouf dengan Spielberg. Sebelumnya ia juga membitangi film Spielberg dalam film "Disturbia".
Film tersebut bergenre thriller dan dia berperan sebagai Kale Brecht, seorang anak muda yang suka mengintip rumah tetangganya dan tidak sengaja melihat tetangga membunuh seseorang perempuan.
Lewat pesona wajah dan akting LeBeouf, hal ini bisa menyegarkan mata penonton yang mungkin mulai bosan menyaksikan film gaya Spielberg yang populis, sentimental, dan terburu-buru di akhir cerita.
Film ini di Indonesia mulai diputar awal Oktober di berbagai bioskop jaringan 21 cineplex. Sejumlah penonton usai menyaksikan film ini mengaku menyukai penampilan berbeda LeBeouf dan menikmati ketegangan sepanjang cerita berjalan.

Diposkan oleh desy di 18:28 0 komentar
Label: film baru
beautiful day
Diposkan oleh desy di 17:56 0 komentar
tragedi di siang bolong :)
Diposkan oleh desy di 13:07 0 komentar

